Selasa, 31 Agustus 2010

Pilihan Tuhan

kadang, aku tak mengerti jalan pikiran orang tuaku
kadang keinginan dan pikiranku tak sejalan dengan mereka
kadang aku merasa di rugikan besar-besaran oleh mereka
namun semua itu tak membuatku buta akan arti sebuah keluarga
sebagaimana pun juga disinilah aku dilahirkan dan dididk sedemikian rupa maka jadilah aku yang sekarang
aku hidup di tengah-tengah siapapun yang mengubah aliran darahku
mengubah gerak denyut nadi seorang seperti aku
semuanya tercipta di tahun-tahun yang silam
ketika aku beranjak dewasa, aku pun merasakan arti hidup
ku lihati mereka yang mampu mempertahankanku hingga hari ini
tapi, siapa bilang aku selalu menyimpan kedamaian?
aku sering merasa disalah artikman hanya karena aku berbeda diantara yang ada
hal ini seakan mendorongku untuk sering dijadikan apa pun olehnya
apa pun yang dikatakan, dilakukan, diperlihatkan kepadaku itu seakan menjadi seorang guru masa depan
jadi, aku berpikir bahwa aku dibentuk dari lahir hingga aku mati nanti pun ada di atas tangan mereka
bukan ada di aku sendiri
aku memang dilahirkan dan dititipkan di keluarga ini, dan aku pun ingin sekali bisa melihat dunia luar keluarga ini
merasakan dunia segar di luar jadwalku yang penuh
bisa memilih jalanku sendiri tanpa dipengaruhi oleh apapun dan siapapun kecuali pilihan Tuhan bagiku
karena aku sadar aku ada hingga hari ini hanya dikarenakan pilihan Tuhan
aku dipilih untuk menjalankan amanat itu hingga memang sudah selesai dan terbayari
terbayar dengan hitungan jam dan detik
di saat detik berhenti bergerak, itulah tanda aku dan semuanya berakhir meninggalkan jejak kenangan selama semuanya masih hidup

Kamis, 26 Agustus 2010

"HAI!!!! BUAT KALIAN YANG sUDAH MASUK KE BLOG INI, SILAHKAN LIHAT2 (di Laman JAPANADYA), DAN JANGAN LUPA COMMENTNYA YAAA!!!!!!!!!"

Rabu, 25 Agustus 2010

Saat Hari Berganti

menjelang detik-detik terakhir ku berjuang tuk menghabiskan waktu yang tersisa
agar tidak ada yang salah disini aku harus bisa berfikir dua kali bahkan lebih tuk memilih jalan hidup
melewatkan hari-hari singkat dengan kepasrahan dan ketahanan diri
saat pagi datang, disaat itulah hariku akan dimulai dari angka nol lagi
tetapi saat malam datang, hariku yang berat sepanjang hari akan menghilang sedikit demi sedikit menjadi sumber peingatanku untuk selanjutnya
ketika hati dan otak ingin merelasikan dunia mimpi,
maka hati pun akan bercakap sepanjang malam menembus gelapnya malam
sampai akhirnya terlelah dan tertidur sampai sinar matahari membangunkanku dari kenyamanan sesaat
entah mau jadi seperti apa hari besok maupun lusa
yang ada saat mata terbuka adalah harapan
harapan untuk senantiasa bisa menjalani hari yang singkat
saat itu sedang berjalan, aku harus bisa melihat ke atas
diatas sanalah akan ada titik terang untuk menuju pintu kebenaran dan kebahagiaan
lupakan dia yang hanya bisa memberi harapan kosong dan tidak berarti
semuanya hanya kenangan palsu dan bohong
jangan menyimpan harapan besar pada apapun dan seseorang karena itu tidak menjamin apa-apa
tapi berharaplah kepada Dia yang memegangi segalanya
Dia ada di mana-mana dan tak pernah lelah mengamati jalannya hidup sepanjang hari sampai ketika saatnya harus berlindung dari lemparan kepedihan
pedih memang sakit rasanya
namun tak ada guna untuk menyimpannya sendirian
lebih baiknya diam seribu bahasa dengan hati yang kacau balau dimana Tuhan akan menenangkan badai itu dengan firman-Nya dan sentuhan kasih-Nya
kepercayaan
ya hanya dengan kepercayaan itu semua bisa terjadi dengan mudahnya
percaya dengan perkataan sang pencipta bisa mengubah jalan pikiran menjadi sumber untuk bertahan diatas kehidupan yang misterius
tak perlu bingung dan khawatir, itu hanya membunuh hati menjadi gelap
tapi saling menguatkan meski itu perlu belajar bertahun-tahun bahkan tak kan pernah selesai

Minggu, 15 Agustus 2010

Cerita Kebaikan Putri Bungsu

Pada zaman dahulu kala ada sebuah keluarga yang hidup serba berkecukupan. Di dalam rumah yang seadanya, tinggallah seorang anak gadis yang sangat cantik jelita bernama Merila. Merila hidup bersama ayah dan ibu serta ketiga saudara perempuannya, Mocca, Mesila dan Misantri. Mereka hidup saling bergantung satu sama lain.
Suatu ketika, Ayah mendapat panggilan untuk berkerja di sebuah pelabuhan. "Nah, sekarang Ayah akan pergi untuk beberapa hari. Kalau ada apa-apa, segera hubungi Ayah. Ayah janji, begitu Ayah pulang, Ayah akan membawa hadiah yang banyak. Kalian minta apapun, Ayah akan kabulkan."
"Semua ya,Yah. Kalau begitu Mocca minta emas yang banyak dan baju gaun merah muda."
"Kalau Mesila minta boneka beruang putih yang bulunya terbuat dari kain sutra yang sangat halus."
"Kalau Misantri minta kalung emas dan mutiara yang diambil langsung dari dasar laut."
"Baiklah. Pasti Ayah akan bawa pulang semua yang kalian minta. Merila, kamu minta apa dari Ayah?"
"Merila tidak minta apa-apa dari Ayah. Asalkan Ayah bisa pulang dengan selamat,itu jauh lebih berharga dari apapun." Ayah sangat terharu mendengar permintaan putri bungsunya. "Ayah, hati-hati ya di jalan. jangan lupa pesan Ibu semalam."
"Ayah tidak akan lupa. Kalau begitu Ayah pergi dulu." Ayah pun menunggangi kudanya dan segera pergi meninggalkan rumah.
Saat Ayah dan kudanya tidak terlihat lagi, sifat asli Mocca, Mesila, Misantri dan Ibu mulai keluar. "Eh, Merila! Kamu jangan sok polos. Pura-pura tidak meminta apa-apa. Aku yakin, begitu Ayah pulang, kamu pasti akan meminta agar kami meminjamkannya. Iya kan? Ayo ngaku!"
"Enggak. Aku gak mau apa-apa."
"Udahlah! Ngapain sih ngomong ama orang yang telmi? Buang-buang waktu. Eh Merila, awas kalau sampai kamu ngadu ke Ayah perilaku kami ke kamu. Asal kamu tahu ya, semua orang di desa ini, udah gak ada lagi yang berani sama kami. Makanya, selama Ayah pergi, kamulah yang jadi pembantu di rumah ini."
"Apa?"
"Gak cuma itu. Kamu juga harus beresin kamar kami."
"Tidak bisa begitu dong. Biasanya kan kita mengerjakannya bersama. Kenapa hanya aku yang mengurus rumah?"
"Udah, cepet sana! Gak usah kebanyakan alasan."
Merila hanya menuruti semua keinginan Ibu dan ketiga saudaranya.Semenjak itu, hari-hari berat Merila pun dimulai.

Seminggu kemudian,
Hari itu, Merila sedang menjemur pakaian-pakaian yang baru saja ia cuci di belakang rumah. Tiba-tiba datang seorang kakek-kakek lusuh dengan pakaian yang sudah robek sana-sini. "Selamat pagi, Nona. Apakah benar ini alamat rumah Putri Merila? Bisakah saya bertemu dengannya?"
"Pagi. Saya Putri Merila. Kakek siapa?", tanyanya dan terpaksa menghentilkan kegiatannya. "Saya hanya mengabarkan bahwa, ayah Nona mengalami kecelakaan kapal saat hendak pulang kemari. Kebetullan saya salah satu awak kapal yang selamat. Tapi sayang, ayah Nona tidak terselamatkan. Beliau meninggal seketika."
"Apa? Tidak mungkin!"
"Aduh! Ada apa sih? Pagi-pagi udah ribut. Berisik!", teriak Mocca yang sangat terganggu dengan obrolan itu. "Kak, Ayah.. Ayah.."
"Iya, Ayah kenapa? Kakek jelek ini siapa? Pasti pengemis! Pergi sana!", usirnya dengan kasar. "Ayah meninggal, Kak. Meninggal dalam kecelakaan kapal."
Mocca tertawa dan tidak percaya. "Apa? Ayah meninggal? Meninggal? Hahaha. Ini kabar yang sangat bagus! Ibu! Mesila! Misantri!" Sesaat, Ibu, Mesila, dan Misantri keluar. "Apa Pak? Suami saya meninggal? Akhirnya.", kata Ibu lega dan senang. "Lho, Ibu dan Kakak kok malah senang? Ayah meninggal Bu, Kak. Meninggal!"
"Iih. Gak usah teriak dong. Kami belum tuli! Udah masuk sana. Bereskan kamar Ibu, setelah itu bersihkan kamar mandi dan jangan lupa masak. Cepat!"
"Tapi Bu.."
"Cepat!" Merila menjadi sangat sedih dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain pasrah dan berdoa bagi ayahnya.
Sejak tersiar kabar meninggalnya Ayah, Merila dan keluarganya jatuh miskin. Semua harta yang dimiliki pun telah habis terjual demi memenuhi kebutuhan. Meski pun begitu sikap Ibu dan ketiga putrinya terhadap Merila tidaklah berubah sedikit pun. Bahkan Merila sering diusir, jika tidak mendapatkan uang untuk membeli makanan. Merila sangat sedih dan sering kali menangisi keadaannya. Kebencian dan keirian keluarganya membuatnya semakin terpuruk.
Suatu hari terdengar berita dari sebuah kerajaan yang paling kaya di seluruh negeri. Berita itu berisi bahwa Pangeran Charles sedang mencari seorang istri yang cantik dan bisa memasak dan kelak menggantikan posisinya menjadi seorang ratu yang paling dihormati di seluruh negeri. Tentunya, semua gadis dari berbagai kalangan, berbondong-bondong mengikuti sayembara itu. Akan tetapi setelah sayembara berjalan lebih dari 5 bulan, tidak ada seorang gadis pun yang mampu menarik perhatian Pangeran Charles. Raja dan Permaisuri pun takut, Pangeran Charles tidak akan pernah bisa mendapatkan calon istri karena sifatnya yang terlalu memilih.
Akhirnya, pangeran Charles tidak bisa lagi lama menunggu. Ia pun meminta izin kepada orang tuanya untuk berkelana mencari seorang istri. Awalnya, keinginan itu dilarang, tapi sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Maka Pangeran Charles mulai berkelana mencari istri dan berjanji tidak akan kembali sebelum mendapatkan calon istri.
Dan pada akhirnya setelah berkelana begitu jauhnya, Pangeran Charles sampai di rumah Merila. "Permisi."
"Iya, Anda siapa ya?", jawab Ibu dari dalam.
"Perkenalkan saya pangeran Charles. Saya sedang mencari calon istri untuk diperkenalkan kepada orang tua saya. Apakah Anda memiliki seorang gadis cantik yang bisa memasak?"
"Hahaha. Oh tentu saja. Saya punya 3 anak perempuan dan mereka cantik-cantik dan pintar sekali memasak."
"Oh ya? Ini merupakan kesempatan bagus saya untuk mendapatkan calon istri." Ibu memanggil ketiga putrinya yang sangat ia sayangi. Seketika, mereka langsung memasang mata yang berbinar-binar. Pangeran Charles sangat kagum dengan kecantikan mereka. Akan tetapi Pangeran Charles merasa ada yang aneh dengan wajah ketiga putri yang cantik itu. "Apakah, Anda hanya memiliki 3 putri? Lalu yang itu siapa?"
Semua tertuju pada arahan pangeran Charles. Mereka berusaha menutup-nutupi Merila karena di rumah ini hanya Merila yang rajin dan pandai memasak. Mereka berharap, Pangeran Charles tidak memilih Merila. "Oh itu bukan siapa-siapa. Dia hanya pembantu."
"Di rumah sekecil ini bisa menyewa pembantu? Maaf, uangnya dari mana?"
"Dia hanyalah seorang babu tanpa dibayar sepersen pun.", bela Mocca. "Kalau ia adalah pembantu, pasti ia bisa memasak makanan yang lezat kan?" Mereka bingung mau menjawab apa, karena masakan Merila memang lezat. "Tapi pangeran ia hanyalah seorang pembantu. Apa kata orang kalau orang terpandang seperti pangeran menikah dengan seorang pembantu atau seorang babu?"
"Babu atau pembantu sekalipun ia tetaplah gadis berhati lembut. Kemarilah kau yang ada disana." Merila pun mendekati sang pangeran. "Inilah calon istriku yang telah kupilih. Dan tak ada seorang pun yang bisa menggugatnya"
"Tapi, bagaimana pangeran yakin kalau dia adalah pilihan terbaik pangeran?", protes Ibu yang sangat keberatan. "Iya, iya benar.", protes mereka semua. "Baiklah, agar semuanya adil, saya akan mengetes 4 putri cantik ini dalam hal memasak. Siapa yang masakan bisa memikat lidah saya serta berpenampilan menarik perhatian saya, maka dialah calon istri saya kelak." Semuanya langsung setuju. Maka, 4 putri itu memasak sesuai kemampuan mereka masing-masing. Ibu yang tidak bisa membantu, hanya bisa berdoa supaya diantara ketiga putrinya salah satunya dipilih pangeran.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya keempat putri cantik itu telah menyelesaikan perintah dan keinginan pangeran. Ketika keempat menu makanan yang berbeda-beda dihadirkan di hadapannya, mata pangeran Charles hanya tertuju pada satu jenis makanan yang membuatnya tertarik untuk mencobanya yaitu masakan Merila. "Pangeran yang baik, silakan mencoba masakan mulai dari milik saya. Karena saya yakin, masakan sayalah yang terenak."
"Tidak Putri Mocca. Saya ingin memncoba dimulai dari nomor empat. Saya lebih tertarik pada masakan keempat." Merila menjadi berdebar-debar. Namun akhirnya setelah mencoba semua yang tersedia, Pangeran Charles mulai memberi jawabannya untuk segera memilih calon istri. "Saya telah memutuskan siapa yang akan ssya ajak untuk pulang bersama saya ke istana yaitu Putri Merila."
"Apa???"
"Kenapa? Ada yang salah? Kalian bisa mencobanya sendiri. Benar-benar cita rasa yang sangat luar biasa. Berbeda dengan masakan lainnya. Keputusan ini tidak bisa diubah. Putri Merila bersediakah Anda menikah dengan saya dan ikut ke istana serta tinggal di istana bersama saya?"
"Tentu pangeran. Akan tetapi, bolehkah saya membawa Ibu dan saudara-saudara saya ikut bersama ke istana? Saya tidak bisa bersenang-senang diatas penderitaan mereka."
"Kamu tidak hanya cantik tapi juga baik hati. Saya izinkan kamu membawa serta keluargamu tetapi mereka hanya ditempatkan menjadi pelayan istana."
"Pelayan istana?"
"Karena saya bisa melihat penderitaan-penderitaan dimatamu selama ini. Itu terlihat jelas di wajah dan bentuk matamu yang mencekung. Sekaranglah saatnya keadaan berbalik. Sudah saatnya kamu merasakan kebahagiaan. Maka dari itu, ikutlah bersama saya ke istana."

Hari itu juga diadakan pesta besar-besaran di istana dan seluruh pelosok negeri. Semua bersuka cita dengan kepulangan Pangeran Charles bersama istri pilihannya yang kini menjadi pemimpin negeri yang baik hati, suka menolong dan dihormati seluruh penduduk negeri.

Selasa, 10 Agustus 2010

Pacarku Adalah Ibuku

Gue, gue adalah seorang pria muda terpelajar yang tinggal di rumah besar dan kaya dari pasangan suami istri yang mengadopsi gue saat gue berusia 2 tahun. Mereka memberikan gue sebuah nama. Nama yang sangat bagus menurut gue, yaitu Fadlino Ricky. Tapi gue tetep suka sama nama asli gue, Vito Sanjaya. Sebenernya itu nama asli gue, nama yang dikasih sama orang tua kandung gue. Gue enggak mau nama gue diganti begitu aja. Tapi apa daya? Gue masih kecil, gak ngerti yang gitu-gituan. Gue tau ini semua juga 8 tahun yang lalu saat gue berumur 16 tahun.
Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan gue banget. Hari ini gue akhirnya diwisuda setelah belajar 5 tahun di Korea tentang Progemmer Komputer. Gile, gue langsung disuruh balik sama orang tua angkat gue untuk bekerja di Indo. Gue rasa, percuma aja gue sekolah tinggi dan bergelar kalo ujung-ujungnya bekerja di Indo. Alasannya sih, karena udah gak kuat pisah lebih lama lagi. Cukup 5 tahun. Jangan lebih! Ya, gitulah yang mereka bilang. Mau gimana lagi ya harus gue jalanin amanat itu, meski gue rasa itu bego banget. Kalo tau gini, ngapain gue mesti sekolah jauh-jauh di Korea? Buang-buang waktu and duit aja. Hahaha.
Ada sedih ada juga senengnya. Dengan kepulangan gue, gue bisa ketemu sama cewek gue. Hahaha. Jujur, tu cewek memang pantes gue acungin jempol. Secara, zaman sekarang kan susah banget cari cewek yang setia. Gue tinggal 5 tahun, ternyata dia masih bisa jemput gue di bandara and ngasih gue kado jam tangan. Waw, it's perfect! Gue makin cinta and sayang sama dia. Walaupun dia punya cerita masa lalu tentang cinta yang sangat gila sakitnya. Udah dulu ya, gue mau ketemu cewek gue dulu. Mau dinner. Semoga, gue bisa jadi romantis kayak di film-film Korea.
Fadli menutup buku catatannya dan bergegas meninggalkan rumahnya.

"Fadli, maaf kalo omonganku ini agak nyakitin perasaanmu ya. Aku rasa, hubungan kita gak mungkin bisa dijalanin lagi." Bagaikan pedang tajam menusuk jantung gue. Gue kaget dan sama sekali gak ada pikiran kalo cewek yang gue sayang, akhirnya bisa juga ngomong gituan. "Apa? Kenapa Vel? Apa, aku pernah bikin kamu sedih? Apa karena aku pergi tinggalin kamu untuk sekolah? Tapi kan hampir setiap hari, aku kirimin kamu e-mail dan sms. Bahkan sebulan sekali, aku mencoba untuk menelpon kamu kan?" Vela cuman menggeleng dan berusaha berkata tidak. "Trus apa dong? Plis, jangan begini dong? Kalo ada yang salah kasih tau. Biar aku perbaikin. Oh, aku tau sekarang, kamu takut, kalo aku nikah sama kamu, kamu takut kamu terlalu tua buat aku? Vel, aku tau perbedaan usia diantara kita memang sangat jauh. Tapi buat aku, beda 20 tahun itu gak apa-apa. Yang terpenting, aku dan kamu bahagia."
"Fad, tolong kamu dengerin alasan aku ya, dan aku harap kamu bisa cepet ngertiin maksud aku ini."
"Apa alasannya? Kasih tau! Plis, jangan bikin aku bingung."
"Fad, kamu tau kan kalo aku itu adalah seorang janda? Dulu aku pernah menikah dengan seorang pria berdarah campuran Arab-Indonesia. Dan hasil pernikahanku dengannya, menghasilkkan seorang anak laki-laki bernama Vito Sanjaya, persis seperti nama asli kamu sebelum kamu diadopsi sama orang tua angkat kamu."
"Iya. Aku masih ingat cerita itu. Tapi Vel, yang namanya Vito Sanjaya itu kan banyak. Gak cuman aku. Bisa aja, yang namanya Vito Sanjaya itu bukan aku."
"Fad, tolong denger penjelasanku sampai selesai. Aku belum selesai bicara!"
"Maaf." Gue bisa diem doang kalo dimarahin sama cewek. Gue mengambil nafas panjang. Vela juga sebelum ia menangis di depan gue. "Fad, aku minta putus. Aku rasa, kamu gak perlu tau alasannya. Karena ini sangat meyakitkan buat kamu. Belum saatnya kamu tau, siapa aku ini." Vela pun berdiri. "Selamat tinggal Fadli. Semoga kamu bahagia tanpa aku." Gue pun ikut berdiri dan memegang lengannya. "Vel! Kamu ngomong apa sih barusan? Kamu gak boleh ninggalin aku gitu aja dong. Vel, plis, apa alasan terkuat sehinnga kamu mau putus?"
"Seandainya, aku adalah ibu kandungmu, apakah mungkin kita masih bisa seperti ini sampai ke jenjang pernikahan? Itu haram hukumnya, Fadli! Itu sangat dilarang agama! Tolong, kamu mau ngerti ya?"
"Ibu kandung aku? Kamu ibu kandungku?" Gue ketawa di depannya. "Vela, kamu gak perlu bercanda. Ini bukan waktunya buat bercandaan. Kamu bukan ibu kandungku. Sampai kapan pun, aku bukan anak kamu yang hilang itu."
"Fadli! Suatu saat nanti kamu akan menyesal karena pernah ngomong begitu sama aku."
"Oke. Mana buktinya? Mana bukti kalo kamu itu ibu kandung aku? Mana?" Gue seperti mengancam cewek yang gue sayang. Dia tampak gugup dan takut untuk membalas permintaan gue. Vela pun duduk lagi di kursinya dan gue pun ikut duduk. Vela mengeluarkan map kuning di atas meja dan menyodorkannya ke gue. "Itu adalah akte kelahiran anakku, Vito Sanjaya. Di dalamnya juga ada hasil tes darah laboratorium aku dan kamu."
"Tes darah? Kapan kamu melakukannya? Kenapa aku gak tau soal ini?"
"Tes itu udah lama. Sekitar 3 tahun setelah kamu meninggalkan Indonesia." Gue membuka map kuning itu dan mengeluarkan semua isinya. Di dalamnya memang ada akte kelahiran dan tanggal kelahirannya persis seperti tanggal lahir gue. Ditambah lagi nama ayahnya tertulis jelas, Jodi Sanjaya Stewardo serta nama ibunya, Vela Merila Sansei. "Ini gak mungkin!" Gue membuka hasil tes darah itu. Gue membacanya dengan seksama agar jelas semuanya. Ternyata golongan darah gue dan Vela sama persis, AB! Sumpah ini sama persis dan gak ada yang beda sama sekali. "Gak! Gak mungkin! Ini pasti tes darah orang lain! Pasti ada yang salah atau mungkin ketuker." Gue mencoba membantah bukti-bukti yang udah ada. Meskipun gue gak tau, siapa Jodi Sanjaya Stewardo itu. Tapi gue merasa pernah nama itu sebelumnya. Nama yang gak asing di telinga gue. Kalo gak salah itu nama mantan suaminya kakak perempuannya Mama. Berarti dia ayah kandung gue. Jadi selama ini gue udah ketemu orang tua kandung gue, tapi gue yang goblok bisa-bisanya jatuh cinta sama ibu gue sendiri. "Fadli, kamu adalah Vito Sanjaya anakku. Kamu memang anakku. Aku gak mungkin menikahi anakku sendiri! Kalo kamu masih gak percaya, aku bawa gelang kain yang aku buat sehari sebelum kamu menghilang." Vela mengeluarkan sesuatu yang udah usang dan jelek. Gue mencoba inget-inget benda itu. Dan gue baru nyadar, itu salah satu benda peninggalan orang tua kandung gue yang gue temuin di kotak kecil di gudang . Tapi sayangnya, kotak itu gak sengaja kebakar gara-gara keteledoran gue sendiri. Jadi udah gak ada bukti lagi. Setelah berfikir cukup lama, gue pun menyadari gue memang anak Vela. Pacar gue yang selama ini gue sayang, gue perhatiin lebih dan nyaris pengen gue kawinin bulan Oktober nanti, ternyata adalah ibu kandung gue sendiri! Gue gak nyangka ini bisa terjadi di hidup gue. Gue gak bisa memungkiri kalo gue cinta banget sama dia melebiihi apapun di dunia ini. Cinta ini udah ngelebihin cinta antara ibu dan anak!
2 tahun kemudian,
Gue masih berkemelut oleh cintaku kepada ibu kandung gue. Cinta gue berubah jadi patah hati dan gak ada semangat akan hidup. Ini bertambah menyakitkan saat ia mengakui ke semua orang dan setelah itu, ia pergi untuk selama-lamanya menuju alam baka bersama ayah ksandung gue yang udah meninggal saat balik ke Arab. Pesawatnya kecelakaan dan tenggelam di tengah lautan. Itu sebabnya, ibu kandung gue jadi janda beranak satu. Anaknya itu adalah gue....
Cinta terlarang itu, kini telah dikubur mati yang berubah menjadi pengalaman cinta gue yang paling rendah and buruk yang pernah gue lakuin!!!!

France's Country














Mix Of Comics







Upin And Ipin