Senin, 04 April 2011

Ketika cinta telah menghilang



Kisah ini mengenai perjalan hidup seorang wanita bernama Mitha. Aku mengenalnya sejak aku masih kanak-kanak. Mitha adalah sosok wanita yang cerdas dan energik. Di usia remajanya saat itu, dia banyak mengikuti aktivitas positif, dari bidang olah raga, kesenian dan juga aktif dalam organisasi remaja.



Sebagai remaja yang aktif dan demikian luwesnya dalam bergaul, Mitha memiliki banyak teman baik laki-laki maupun perempuan. Dan di usia remajanya itu pula, Mita mulai menjalin hubungan kasih dengan seorang teman prianya yang bernama Remo. Sayangnya, Remo memiliki perilaku yang bertolak belakang dengan Mitha, Remo termasuk remaja yang selalu bersikap nakal walaupun kenakalannya itu masih termasuk kenakalan remaja biasa. Seperti cerita cinta remaja yang banyak terjadi dari zaman ke zaman, cinta Mitha pun sulit untuk digoyahkan sekalipun teman-teman dan keluarga kerap mengingatkan dan memberikan pengertian kepada Mitha mengenai kenakalan Remo yang mungkin akan menjadi masalah bagi masa depannya sendiri.



Ketika Mitha lulus dari SMA, dia melanjutkan kuliah diluar kota karena memang di kota kecil ini belum ada perguruan tinggi yang baik. Dan sejak itu, aku juga tidak mengetahui lagi perjalanan Mitha, apalagi beberapa tahun kemudian orang tua Mitha juga dipindahtugaskan ke daerah lain walaupun masih di kota yang sama. Berita terakhir saat itu yang kudengar bahwa Mitha melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi swasta di kota Jakarta.



Beberapa tahun kemudian, setelah lulus dari SMA aku melanjutkan kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Disana aku tergabung dalam kelompok mahasiswa yang terlibat dalam proyek-proyek penelitian yang diselenggarakan oleh pihak perguruan tinggi dan dibawah bimbingan para dosen. Dan tanpa diduga, pada salah satu proyek penelitian mengenai ‘Gizi Masyarakat’, aku bertemu dengan Mitha. Ternyata Mitha mempunyai profesi sebagai Ahli Gizi di Jakarta dan Lembaga tempat dia bekerja menjadi penyandang dana dalam proyek penelitian yang sedang kami lakukan saat itu.



Melihat gaya penampilan Mitha saat itu, aku meyakini bahwa dia memiliki karir yang baik. Dan pada saat pertemuan itu, Mitha mengadakan presentasi yang luar biasa. Aku terkagum-kagum melihat dan mendengarkan presentasi yang dia sampaikan, begitu jelas terlihat betapa cerdasnya wanita ini. Wanita cantik, cerdas, luwes, simpatik sekaligus tampak berwibawa. Mitha telah berubah menjadi wanita karir yang cerdas dan berhasil. Sebenarnya aku tidak terlalu terkejut dengan keberhasilan yang Mitha dapatkan saat itu, jika melihat masa lalu dia yang telah diisi penuh dengan hal-hal positif.



Hampir sepuluh bulan aku dan Mitha terkabung dalam satu team untuk proyek penelitian itu. Walaupun kami sudah saling mengenal satu sama lain sebelumnya tapi kami tidak pernah terlibat pembicaraan yang bersifat pribadi . Yang aku ketahui saat itu bahwa Mitha masih hidup sendiri alias belum berumah tangga. Hingga pada saat proyek penelitian itu selesai, dan akhirnya kami berpisah dan tidak lagi saling memberi khabar.



Hingga beberapa bulan lalu ketika aku berlibur ke rumah orang tuaku di kota kecil itu, aku baru mendengar kembali kabar mengenai Mitha. Betapa terkejutnya aku, dan hampir tidak percaya dengan kehidupan yang sedang Mitha jalani saat ini. Memang benar, roda kehidupan itu berputar, ada saatnya berada diatas dan ada saatnya pula berada dibawah. Tapi mendengar cerita yang dialami oleh Mitha, rasanya sulit untuk dipercaya, kejatuhan itu harus dialami juga oleh Mitha.



Pada tahun 1993, Mitha menikah dengan kekasihnya saat dia masih remaja dulu yaitu Remo. Rasa cinta yang memang sudah mereka bina sejak remaja dan tidak pernah pupus berusaha dibuktikan dengan mewujudkan pernikahan. Setahun kemudian pernikahan mereka dikarunia seorang putri yang cantik, hingga mereka merasa semakin sempurnalah kehidupannya dan juga cinta mereka. Dua tahun kemudian Mitha melahirkan lagi seorang bayi laki-laki yang sehat dan gagah. Siapapun, pasti akan menilai betapa sempurnanya kehidupan keluarga Mitha tidak ada lagi yang harus dilakukan selain mensyukuri dan menjaga segala anugrah yang telah dilimpahkan Tuhan kepadanya.



Seiring berjalannya waktu, berbagai masalah dalam khidupan rumahtangganya pun mulai hadir. Hingga akhirnya Mitha harus meninggalkan pekerjaan dan karirnya yang sudah dirintis sejak lama, bukan hanya itu Mitha dan seluruh keluarganya pun harus hijrah kembali ke kota kecil asal mereka. Bahkan semua materi yang pernah mereka milikipun harus direlakan untuk dilepaskan. Ntah apa sebenarnya yang telah menimpa keluarga ini, keluarga yang telah dibangun diatas cinta kasih itu.



Hari-hari setelah Mitha tinggal di kota asalnya itu, hanya diisi dengan kesibukan pekerjaan rumah tangga. Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan yang ‘tidak mulia’, justru sebaliknya pekerjaan rumah tangga adalah ‘pekerjaan yang sangat mulia’ bagi seorang wanita. Hanya saja, yang dijalani oleh Mitha melebihi batas-batas kewajaran bagi seorang ibu rumah tangga. Lebih tepatnya, bahkan dari pekerjaan seorang pembantu rumah tangga sekalipun sudah diluar batas juga. Di kota asalnya ini, Mitha, Remo dan kedua anaknya tinggal di rumah orang tua Remo yang disana juga tinggal 2 orang adik laki-laki Remo selain kedua orangtuanya. Dan semua pekerjaan rumah, membersihkan rumah, memasak dan mencuci pakaian anggota keluarga (mertua dan adik-adik Remojuga), hingga mengantarkan dan menjemput anak-anak ke sekolah, harus dilakukan oleh Mitha tanpa dibantu siapapun. Hampir tidak ada waktu bagi Mitha untuk istirahat, selain malam hari saat waktu tidur tiba. Dari hari ke hari seperti itulah kesibukan Mitha dan terjadi bertahun-tahun, menjadikan fisik Mitha melemah hingga pada suatu hari Mitha terkena stroke dan sempat tak sadarkan diri beberapa hari.



Kini sudah tiada lagi Mitha yang cerdas, Mitha yang energik, dan Mitha yang cantik, semua itu telah hilang dari dirinya. Mitha yang ada saat ini, tinggallah sesosok tubuh yang tak berdaya, kurus, gigipun sudah banyak yang tanggal, jangankan berdiri untuk dudukpun dia sudah tak sanggup lagi, bahkan untuk bicarapun sudah tidak jelas lagi kata-kata yang terucap dari bibirnya. Saat aku datang menjenguknya, aku tak bisa menahan diri untuk tidak menitikkan airmata.



Penderitaan apakah yang telah dialaminya, hingga dia harus menderita sakit seperti saat ini? Bagaimana dengan Remo? Kemana Remo?



Ketika aku menjenguknya, aku bertemu dengan orangtua Mitha yang kemudian menceritakan apa yang beberapa tahun terakhir ini dialami oleh Mitha. Sejak kepindahan Mitha ke kota kecil ini, kehidupan rumah tangganya sudah tidak berjalan baik lagi, baik hubungannya dengan Remo maupun kehidupan ekonominya. Remo sama sekali tidak peduli dengan Mitha dan anak-anaknya, bahkan sepertinya Remo sudah tidak lagi mencintai Mitha. Disaat Mitha sakitpun, Remo sama sekali tidak memperhatikannya, di sibuk mencari kesenangannya sendiri. Nampaknya Mithapun cukup menyadari bahwa Remo sudah tidak mencintainya lagi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terlebih Mitha cukup mawas diri dengan keadaan fisiknya yang sudah tidak menarik lagi. Sehingga dia hanya bisa diam dengan segala derita lahir dan bathinnya dan menerima segala perlakuan kurang baik dari Remo dan bahkan keluarganya.



Saat tak ada lagi cinta diantara dua hati yang pernah dipersatukan didalamnya, akankah berakhir dengan kepedihan seperti itu?



Mba Mitha,

Aku berharap cinta yang pernah Mba Mitha rasakan, akan datang kembali. Yakinlah bahwa cinta yang datang pada saat seperti ini, adalah cinta suci, cinta yang abadi, cinta yang tidak pernah hilang seiring berjalannya waktu walau raga sudah tak mampu lagi berdiri. Kuatkanlah hati dan yakinlah bahwa masih ada orang-orang yang mencintai Mba Mitha…...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar